Senin, 02 Juli 2007

Urgensi Sastra Jawa Pinggiran

Oleh:Paring Waluyo Utomo

Babad Tanah Jawa {BTJ}oleh sebagaian sejarawan dan peminat sastra Jawa seringkali dianggap sebagai maha karya yang “adiluhung”. Karena teks itu dianggap mencerminkan keluhungan Jawa, seringkali dijadikan referensi utama untuk menengok Jawa pada masa lalu.
Cara penglihatan semacam ini sebenarnya juga pernah terjadi di Eropa menjelang abad 19. Mahzab Leavisisme senantiasa memandang sastra atau kebudayaan itu dari kalangan kelas aristokrat. Bagi mahzab ini, sastra atau kebudayaan kelas pekerja atau orang kebanyakan yang tidak ningrat, tidak terpelajar adalah budaya massa yang tidak mencerminkan kebaikan. Pandangan ini muncul di Eropa dikarenakan saat itu pecah revolusi indutri yang mampu memproduksi budaya massa. Kalangan artistokrat merasa tersingkir dalam wacana publik dengan lahirnya budaya massa itu. (dalam: John Storey:1993 dan Chris Barker: 2000)
Dua kasus cara penglihatan semacam itu jelas sekali sangat politis. Padahal kalau kita jeli menelusuri karya-karya sastra klasik Jawa, sejatinya kita juga harus mau melihat “politik-kebudayaan” pada jaman karya itu dilahirkan. Sehingga kita bisa mendapatkan sejarah Jawa secara berimbang. Yakni sejarah yang tidak semata-mata dikeluarkan oleh Keraton atau kaum aristokrat {baca:negara}.
Ketika penulis melakukan pengamatan atas karya sastra keraton, misalnya saja Babad Tanah Jawa, banyak kisah-kisah yang di “korup” sehingga kisah itu sengaja tidak dinarasikan. Kalaupun dinarasikan, maka pihak yang mencoba kritis terhadap keraton senantiasa digambarkan begitu mengerikan, seolah-olah sebagai pendosa tiada ampun.
Misalnya saja pengarang {BTJ} dengan sengaja menghilangkan kisah Ki Ageng Mangir. Padahal pribadi ini memiliki andil besar dalam pendirian Mataram {Islam}. Tanpa andil dan jasa Mangir, muskil Panembahan Senopati {Raja Mataram} mampu membuka Hutan Mentaok yang diberikan oleh Sultan Pajang. Karena keserakahannya, Senopati akhirnya membunuh Mangir, itupun melalui jalan yang licik, yakni mengumpankan puterinya yang bernama Pambayun untuk menundukkan Mangir. Kisah tentang Mangir ini justru di ekspose oleh BTJ yang dituliskan kembali oleh Belanda, tentu sebuah catatan BTJ versi Belanda. Kisah Mangir kemudian di tuliskan kembali oleh sastrawan kawakan kita, Pramoedya Ananta Toer.
Kisah antagonisme orang-orang Keraton yang menyembunyikan diri dalam ideologi “adiluhung” seolah belum usai. Ketika Mataram {Islam} tidak berhasil menundukkan Blambangan {Banyuwangi} karena kegigihan orang-orang Osing itu, pihak Mataram menyuruh para pujangga menggambarkan Minak Jinggo, Raja Blambangan dalam figurasi yang begitu menakutkan, yakni sesosok buta dengan tabiatnya yang jahat.
Model kuasa “politik-kebudayaan” lain juga dapat kita lihat pada masa Paku Buwono II saat berkuasa atas Keraton Surakarta. Akibat perselingkuhan kekuasaan agama dan negara, seorang pujangga keraton yang bernama Yasadipura I menggambarkan ajaran Syekh Mutamakin {dari Bolek, Tuban} sebagai ajaran yang sesat. Hal ini terjadi karena Syekh Mutamakin mengajarkan kritisisme untuk menggantikan dogmatisme syariah yang dikembangkan oleh Ketib Anom dari Kudus. Karena Ki Ketib Anom memiliki kedekatan hubungan dengan kekuasaan, maka Syekh Mutamakin diekslusi dari ranah publik sampai ia meninggal di Kajen, Pati. Namun begitu nasibnya tidak se tragis Syekh Siti Jenar. Atas tabiat Syekh Mutmakin itu, Yasadipura I (sebagai orang keraton) menggambarkan ajaran-ajaran Mutamakin dalam Serat Cebolek yang ujung-ujungnya ikut menghakimi pandangan Syekh Mutamakin.

Can be subaltern speak?
Istilah can be subaltern speak? diatas saya kutip dari karya Gayatri Spivak. Spivak (1988) memberikan perhatian untuk mewujudkan kemandirian kelompok-kelompok marjinal atas kebudayaannya sendiri, tanpa harus didefinisikan secara sepihak oleh mereka yang berkuasa. Ia justru melihat bagaimana orang-orang pinggiran yang marjinal membangun sketsa kebudayaan dari mereka yang dominan. Jadi spivak membalik alur kebudayaan diruang publik yang selama ini di driver dari kalangan atas.
Pendekatan yang dibuat oleh Gayatri Spivak diatas mengilhami kita untuk membaca kebudayaan Jawa tidak serta merta dari Keraton. Dalam hemat saya, penting bagi kita untuk membaca kebudayaan Jawa dari sumber-sumber yang selama ini diabaikan, misalnya saja dalam sastra lisan seperti: mantra, dan kidung. Sastra lisan dipergunakan oleh rakyat kebanyakan untuk merepresentasikan kebudayaannya.
Kita mungkin selama ini abai menggunakan sumber-sumber lisan dari “orang bawah” alias wong cilik. Kalaupun kita terlibat intens dengan sumber-sumber tersebut, misalnya saja mantra dan kesenian, seringkali kita jatuh pada ranah mistisisme (dalam melihat mantra) dan hiburan semata (dalam melihat kesenian).
Mungkin penting bagi kita untuk melihat sebenarnya geneologi sastra itu. Machenery (dalam Terry Eagleton;2002) melihat bahwa karya sastra itu bukan sesuatu yang terpusat (centrelized), akan tetapi terpecah dan memancar. Tak ada makna dan struktur yang tersentral, yang ada adalah pertentangan dan perbedaan makna yang terus menerus hadir.
Karena karya sastra itu sifatnya decentering, maka sastra yang dikembangkan oleh kaum pinggiran menjadi penting adanya, sehingga kita tidak silau dengan gmerlapnya kebudayaan keraton. Wong cilik yang kerapkali termarjinalkan sejatinya sangat kaya produk-produk kebudayaan. Melalui dongeng, wong cilik melakukan pendidikan kebudayaan kepada penerusnya.
Misalnya saja di sebuah komunitas di Juwana, ada sebuah kelompok ketoprak yang bernama Bakaran. Ketoprak ini tidak mengomersialisasi diri, ketoprak ini dipakai dan diperankan oleh orang-orang desa setempat. Ketoprak ini mengajarkan beragam cerita resistensi terhadap kebudayaan keraton yang mereka anggap hegemonik. Melalui beragam cerita dalam ketoprak ini kita dihadapkan sisi lain dari kehidupan Jawa, yakni sebuah pandangan kebudayaan Jawa dari orang desa.
Dengan mengangkat sumber-sumber sastra dan kebudayaan pinggiran, kita berharap menemukan kembali dunia yang telah hilang. Yakni sebuah kebudayaan Jawa yang berasal dari beragam komunitas, dan tidak monoton. Sehingga cara penglihatan kita tidak mirip kacamata kuda.